Sinopsis Film: The Imitation Game, Kisah Nyata Alan Turing


 


SINOPSI FILM THE IMITATION GAME: KISAH NYATA SEORANG ALAN TURING 

The imitation game merupakan film biografi, sejarah, dan drama yang dirilis pada tahun 2014.
Film ‘The Imitation Game’ memerankan sosok Alan Turing, dengan menceritakan kisah nyata nya. Alan turing merupakan seorang yang ahli dalam matematika, ia juga sangat jenius. Tahum 1928 sekolah sherbone dimana alan turing mengalami sebuah kekerasan di sekolahnya, karena Turing merupakan anak yang berbeda diantara anak anak lainnya. Tahun 1951 alan turing sedang diinterogasi oleh seorang detektif bernama Robert Nock. Detektif mencurigai ada sesuatu yang disembunyikan oleh Turing, dan seiring percakapan mereka, kembali ke masa lalu, tepatnya saat Perang Dunia II pecah.

Tahun 1939, Nazi menggunakan mesin Enigma untuk mengenkripsi pesan-pesan rahasia mereka, agar sekutu kesulitan mengetahui rencana serangan musuh. Inggris pun merekrut para ilmuwan, ahli matematika, dan kriptografer terbaik untuk memecahkan kode ini. Di sinilah Turing masuk ke dalam tim yang dipimpin oleh Hugh Alexander, di Bletchley Park. Namun, sejak awal, Turing menunjukkan sikapnya yang arogan dan sulit bekerja sama. Ia yakin bahwa upaya manual tidak akan berhasil dan satu-satunya cara untuk memecahkan Enigma adalah dengan menciptakan sebuah mesin yang dapat mengotomatiskan proses pemecahan kode secara lebih cepat dan efisien daripada manusia.

Turing tidak mendapatkan dukungan penuh dari rekan-rekannya, bahkan atasannya Komandan Alastair Denniston. Denniston menganggapnya tidak berguna dan ingin mengeluarkannya dari proyek ini. Namun, Turing dengan kecerdasannya mengakali sistem dengan mengirim surat langsung kepada Perdana Menteri Winston Churchill. Churchill langsung memberinya kepercayaan kepada Turing untuk memimpin proyek ini. Dimana rekan atau atasannya sendiri sangat tidak menyukai kearoganannya. Turing mulai bekerja membangun mesinnya, yang di beri nama "Christopher," ia terinspirasi dari sahabat sekaligus cinta masa kecilnya. Mesin ini dirancang untuk mencoba semua kemungkinan kombinasi kode Enigma dalam waktu yang lebih cepat dibandingkan manusia. Alan turing sendiri mengatakan bahwa enigma dibuat sangat baik, sehingga sangat sulit untuk memecahkan kode.

Saat turing melakukan tes untuk mencari tim baru di suatu kelas yang berisikan para pria, tiba tiba sosok wanita masuk ke dalam ruangan tersebut. Disitulah turing memulai usahanya nya Bersama sosok Wanita tersebut Bernama  Joan Clarke, Joan juga berbakat dalam pemecahan kode yang juga harus menghadapi diskriminasi gender di lingkungan yang didominasi pria. Joan dan Turing pun menjalin hubungan pertemanan yang cukup unik, lebih ke persahabatan dan dukungan satu sama lain serta emosional yang dijalani bersama sama. Joan sendiri mengalami tekanan dari keluarganya, yang tidak menyetujui pilihannya untuk bekerja di lingkungan yang didominasi oleh pria dan lebih memilih agar ia segera menikah. Namun, Joan tetap bertahan karena ia percaya pada pentingnya pekerjaannya dan juga pada dukungannya terhadap Turing.

Hari-hari berlalu, dan tekanan semakin tinggi. Mesin Christopher sering mengalami kegagalan, dan tim hampir menyerah. Namun, titik balik terjadi ketika Turing menyadari bahwa pesan Nazi selalu mengandung frasa yang sama: "Heil Hitler." dengan pola ini, Christopher akhirnya bisa bekerja dengan efektif, dan untuk pertama kalinya, mereka bisa membaca pesan-pesan musuh secara real-time. Kemenangan ini tidak bisa diumumkan begitu saja, karena jika Nazi menyadari kode mereka telah terbongkar, mereka akan mengganti sistemnya. Oleh karena itu, tim Bletchley Park harus memilih dengan hati-hati kapan harus bertindak dan kapan harus membiarkan serangan terjadi demi tidak membongkar rahasia mereka. Salah satu momen paling menegangkan adalah ketika mereka harus membiarkan satu serangan Nazi terjadi agar mereka tidak dicurigai telah memecahkan kode Enigma. Keputusan sulit ini menunjukkan betapa besar beban moral yang mereka tanggung.

Selain tekanan pekerjaan, kehidupan pribadi Turing juga mulai terbongkar ketika pihak berwenang mulai menyelidiki dirinya. Joan mulai menyadari bahwa Turing menyembunyikan sesuatu yang lebih besar dari sekadar pekerjaannya. Ketika hubungan mereka semakin dekat, Turing mengungkapkan kepada Joan bahwa ia sebenarnya seorang homoseksual. Meskipun Joan tetap mendukungnya dan bahkan menerima lamaran pernikahan demi melindungi dirinya dari tekanan sosial, pada akhirnya Turing memutuskan bahwa ia tidak bisa melanjutkan kebohongan tersebut. Mereka pun berpisah secara baik-baik, meskipun Joan tetap menjadi salah satu sahabat setianya.

Setelah perang berakhir, kisah Turing tidak berakhir bahagia. Meskipun ia telah berjasa besar dalam kemenangan sekutu, ia tidak mendapatkan pengakuan yang selayaknya. Karena orientasi seksualnya yang dianggap ilegal di Inggris saat itu, ia didakwa melakukan ketidak patutan dan diberikan pilihan antara hukuman penjara atau terapi hormon kimia yang menyakitkan. Turing memilih terapi hormon agar bisa terus bekerja, tetapi efek sampingnya sangat menghancurkan. Ia kehilangan kecerdasannya, kesehatannya menurun, dan akhirnya mengalami depresi yang mendalam.

Pada tahun 1954, Alan Turing ditemukan tewas di rumahnya, diduga bunuh diri dengan memakan apel yang dicampur sianida. Namun, hingga kini, ada spekulasi mengenai penyebab kematiannya, apakah benar bunuh diri atau kecelakaan akibat eksperimen kimia yang ia lakukan di rumahnya.

Film ini diakhiri dengan catatan tentang bagaimana Alan Turing akhirnya mendapatkan pengampunan dari pemerintah Inggris pada tahun 2013, puluhan tahun setelah kematiannya. Pengakuan ini datang sebagai bentuk permintaan maaf atas ketidakadilan yang ia alami di masa hidupnya. Meskipun pengampunan ini tidak bisa mengembalikan kehidupan yang telah hancur, setidaknya dunia mulai mengakui betapa besar jasa Turing dalam menyelamatkan jutaan nyawa dan membentuk masa depan teknologi komputer.

The Imitation Game bukan hanya tentang pemecahan kode Enigma, tetapi juga tentang perjuangan seorang jenius yang tidak diakui pada masanya dan ketidakadilan yang ia alami hanya karena ia berbeda. Film ini menggambarkan bagaimana seorang yang berjasa besar bagi dunia justru dihancurkan oleh hukum yang tidak adil pada zamannya. Dengan akting luar biasa dari Benedict Cumberbatch, kita dapat merasakan kepedihan, kecerdasan, dan keunikan karakter Turing. Ini adalah kisah yang penuh ketegangan, emosi, dan pesan mendalam tentang pengorbanan dan penerimaan. Film ini mengingatkan kita akan pentingnya menghargai orang-orang berbakat yang mungkin tidak selalu sesuai dengan norma sosial yang ada.


 


Nama: Syani Carissa Syawaluna

NIM: 241020038

Prodi: S1 Informatika

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tutorial Install Ubuntu Dengan VirtualBox 7.2.2-170484 Terbaru

APA ITU RAID dan NAS dan Tutorial Settingnya

RANGKUMAN BAB 4. Syani (24)